Ideologi Kontes Ratu Kecantikan

Oneng alias Noni yang dikenal sebagai kembang desa, telah kembali pulang kampung setelah beberapa waktu lalu berangkat ke kota untuk mengikuti kontes Ratu Indonesia dan berhasil menyabet gelar Ratu Indonesia. Terang saja kedatangannya kembali ke kampung disambut hangat, selain oleh keluarga juga oleh Pak Kades dan rengrengannya. Bagaimana tidak, Oneng akan menjadi wakil negeri ini di kancah internasional untuk mengikuti kontes Miss Universe. Itu tu, kontes ratu sejagat yang pemenangnya tidak disangsikan lagi pasti memiliki tubuh mulus yang seksi, dan katanya otaknya juga jenius. Hebat ga tu?? Trus nanti bakalan jadi bintang iklan minuman U C 1000.

Pak Kades berpendapat, ini adalah sebuah prestasi yang sangat membanggakan bagi Desa Cilaku. Ini bisa membawa harum nama desa Cilaku, yang walaupun namanya Desa Cilaku tetapi selama ini pariwisata desa Cilaku tidak laku-laku. Jangankan wisatawan asing dari Australia, Amerika atau Eropa, wisatawan domestik yang mau datang pun bisa dihitung jari. “ Dengan datangnya kembali Oneng ke Desa, Oneng bisa menjadi duta wisata untuk mempromosikan wisata air terjun yang ada di Desa Cilaku ini!” itulah sambutan Pak Kades ketika acara penyambutan Oneng di Balai Desa.

Walaupun Oneng menolak, karena katanya Oneng sudah memiliki tugas yang lebih berat seperti menjadi duta negara untuk pariwisata, masalah kemanusiaan, duta AIDS, dan duta-duta lainnya. Belum lagi pekerjaannya menjadi model dan bintang iklan beberapa produk kecantikan, sabun mandi, parfum, suplemen makanan, dan bahkan sebuah produk pertanian berupa alat semprot hama tanaman yang konon katanya ngotot berani membayar berapa pun kepada Oneng asal mau menjadi bintang iklan produknya itu. Ditambah lagi tawaran main film dan sinetron juga presenter dari beberapa rumah produksi dan stasiun televisi. Tetapi Oneng tetap berjanji akan mempromosikan wisata air terjun desa Cilaku kepada dunia internasional di sela-sela pekerjaannya menjadi duta pariwisata.

Penggalan cerita di atas adalah gambaran bagaimana selama ini sebagian muslim memberikan penyikapan yang keliru terhadap berbagai bentuk kontes semacam kontes miss universe, putri indonesia, mojang & jajaka, abang & none, dan kontes-kontes sejenisnya. Lalu, apa sebenarnya yang ada dibalik semua kontes-kontes semacam itu, dan bagaimana pula semestinya seorang muslim bersikap menghadapi semua ini?

Komoditi Kapitalisme

Kontes Miss Universe sebagai cikal bakal kontes ratu-ratuan di seluruh dunia, pertama kali berlangsung pada tahun 1952. Tujuannya mencari gadis cantik untuk dijadikan model swimsuit (pakaian renang super seksi) Catalina dan beberapa produk make-up yang menjadi sponsornya. Jadi, kontes kecantikan itu murni mencari wanita cantik –wajah dan fisiknya– untuk dijadikan ikon produk-produk kecantikan. Sama sekali tidak dimaksudkan untuk mencari gadis terpintar, berbudi luhur dan berintelegensia tinggi.

Kontes kecantikan adalah bagian dari industri kapitalisme, di mana tujuan utamanya adalah mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya bagi penyelenggara dan para sponsor berbagai produk, khususnya produk wanita seperti pakaian dan kosmetik. Dan salah satu perusahaan yang tak pernah absen menjadi sponsor adalah produsen swimsuit. Misalnya Catalina yang menjadi sponsor Miss Universe pertama 1952 sampai 1991. Setelah itu sponsor dari produk swimsuit berganti-ganti diantaranya Oscar de la Renta, Endless Sun Apparel dan BSC. Jadi, dalam kontes kecantikan sekelas Miss Universe wajib hukumnya bagi peserta untuk memperlihatkan kemolekan tubuhnya dengan berpakaian minim. Hal itu sudah menjadi ideologi Miss Universe.

Dalam perkembangan selanjutnya, Miss Universe ‘dibebani’ tugas-tugas ‘serius’ seperti menjadi duta wisata, pengemban misi sosial seperti pemberantasan HIV/AIDS, narkoba, lingkungan hidup, pendidikan, anak cacat dan sebagainya. Meski dikemas dengan kegiatan sosial, tetap saja para ratu kecantikan dunia itu diorbitkan dalam rangka memenuhi pundi-pundi para pemilik modal di belakangnya.

Mereka didanai besar-besaran dan mendapat fasilitas mewah karena dianggap berjasa mendongkrak image sebuah produk/merek para sponsornya. Bagaimana dengan jasa para ratu itu dalam mendatangkan wisatawan, mengharumkan nama bangsa, menekan penggunaan narkoba, meminimalkan HIV/AIDS, meningkatkan pendidikan anak-anak dan seterusnya? Belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa peran mereka sangat signifikan dalam hal tersebut.

Yang pasti, untuk menjalankan misi sebagai duta wisata atau misi sosial, memang dibutuhkan wawasan. Maka muncullah kriteria brain (kecerdasan). Meski demikian ukuran fisik tetap menonjol. Ini terlihat dari syarat peserta yang harus berusia muda, tinggi badan tertentu dan wajah menarik/cantik. Bahwa ada syarat intelektualitas, itu hanyalah menjadi semacam ‘tameng’ agar kontes kecantikan terlihat elegan dan bergengsi. Apakah mereka akan menerima peserta yang pendek misalnya, meski otaknya brilian dan berprestasi di bidang akademik? Tentu tidak. Karena, intelektualitas hanya menempati urutan kesekian. Tak heran bila kriteria beauty, brain and behavior sering diplesetkan dengan –maaf– beauty, breast and body.

Sudut Pandang Agama

Jika dilihat dari sudut pandang sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan, apa yang dilakukan oleh beberapa orang yang mengikuti kontes-kontes semacam miss universe itu adalah lumrah. Sekulerisme menjadikan azas manfaat dan materi sebagai tolok ukur. Karena kontes kecantikan membawa manfaat berupa dihasilkannya materi bagi para sponsornya, atau popularitas bagi pemenangnya, maka sah-sah saja dilakukan. Hanya saja pandangan akan ‘manfaat’ itu sendiri bersifat sangat nisbi, tidak hakiki dan bisa berbeda-beda antara manusia yang satu dengan yang lain. Manusia bisa menilai satu perbuatan bermanfaat, namun manusia lainnya memandang itu mudharat. Wajar jika terjadi pro dan kontra, karena masing-masing memakai sudut pandang yang berbeda.

Berbeda dengan standar Islam, di mana batasan dalam menilai perbuatan berasal dari Sang Pencipta sehingga sangat jelas dan hakiki. Ya, sebagai manusia beragama, mau tidak mau, suka tidak suka, kita wajib menjadikan agama (halal-haram) menjadi standar dalam menilai segala sesuatu. Sebab setiap perbuatan manusia ada hukumnya, tidak bebas nilai sebagaimana pandangan ideologi sekuler yang hedonis.

Dalam konteks Islam, MUI sudah gamblang menjelaskan keharaman bagi seorang muslim dan muslimah untuk membuka auratnya di depan umum. Jika melanggar, berarti bisa dikategorikan sebagai pornografi. Namun masih ada yang membantah bahwa melarang pornografi adalah kemunafikan, karena pada dasarnya semua orang menyukainya. Benar, secara manusiawi laki-laki tentu sangat menyukai aurat wanita. Apalagi wanita secantik Alya Rohali, Artika Sari Devi, yang menjadi wakil indonesia di ajang miss universe. Di sisi lain, kaum perempuan memang sudah kodratnya selalu ingin tampil cantik dan mempertontonkan kecantikannya.

Islam pun tidak mengekangnya, melainkan mengaturnya. Sehingga, Islam membedakan hukum antara mempertontonkan kecantikan di ruang privat (hayatul khas) dan di ruang publik (hayatul ‘aam).

Laki-laki dipersilahkan menikmati sepuasnya aurat wanita yang halal baginya, dengan catatan di ruang privat. Sebaliknya, wanita juga bebas mengekspresikan kecantikannya, bahkan di hadapan laki-laki sekalipun (yakni suaminya), khusus di privat. Aturan ini bertujuan untuk menjaga kesucian diri, baik laki-laki maupun wanita, menjaga keutuhan keluarga, dan mencegah efek-efek sosial akibat diumbarnya aurat di ruang publik. Bukankah sudah banyak bukti terjadinya perzinaan, perkosaan, pelecehan seksual, perselingkuhan, dll. Salah satunya dipicu oleh merebaknya pornografi dan pornoaksi di ruang publik, baik dalam bentuk pose di media cetak, VCD, televisi, film, musik atau diskotik?

Karena itu, sudah semestinya semua wanita yang melakukan pornoaksi dan pornografi harus dilarang, termasuk pornoaksi yang sering dipertontonkan dalam kontes-kontes kecantikan. Baik itu yang digelar mulai tingkat desa, kabupaten semisal “MOKA” (Mojang & Jajaka di Cianjur), propinsi, nasional sampai setingkat dunia seperti Miss Universe.

Wallohu ‘Alam Bisshowab.

*Ilustrasi cerita di atas adalah karangan saya aja. Sebagian isinya saya kutip dari tulisan dengan judul yang sama, tapi saya lupa lagi dari mana.

2 responses to “Ideologi Kontes Ratu Kecantikan

  1. salam.
    artikel yang menarik, dan saya sepakat dengan anda.

    saya menukil beberapa konten artikel anda untuk referensi saya, saya akan cantumkan juga url anda pada artikel saya. minta ijinnya. terimakasih dan salam kenal dari saya

  2. Salam juga…

    Terima kasih telah berkunjung!
    Silahkan di copy paste dgn tetap mencantumkan penulis aslinya. saya juga sering seperti itu :)!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s